Menekuni Usaha Souvenir Karena Sering Lihat Pameran

 Kerajinan

USAHA SOUVENIR — Banyak momen penting dalam kehidupan yang membutuhkan sebagai cenderamata atau sebagai hadiah. Misalnya saja pernikahan yang selalu saja ada silih berganti. Hal inilah yang membuat usaha kerajinan souvenir selalu mendapatkan pasar yang cukup luas. Selain pada momen hajatan, souvenir banyak dipakai oleh perusahaan-perusahaan sebagai cenderamata dengan rekan bisnis. Peluang usaha yang cukup terbuka inilah yang menjadi daya tarik Elisabeth Purwanti untuk menekuni usaha souvenir.

Latar belakang Elisabeth yang juga gruru seni rupa di SMA St. Agnes dan Gloria Surabaya ini turut mendukung usaha souvenirnya. Dengan pengetahuannya sebagai pengajar seni rupa tentu lebih memudahkan ia untuk membuat berbagai desain souvenir yang menarik.
Awal mula ketertarikannya menekuni usaha souvenir ini adalah karena ia sering melihat berbagai pameran kerajinan dan souvenir. Ia melihat pasar kerajinan souvenir cukup  besar dan pemainnya juga banyak, namun masih ada celah kalau kita tekun dan pandai menciptakan produk yang berbeda.

Setekah ketertarikannya menekuni usaha kerajinan souvenir semakin kuat, ia  mencoba membuat beberapa jenis kerajinan, seperti gerabah yang ia lukis, hingga memanfaatkan media seperti, talenan untuk dilukis. Meski awalnya sebagai media pembelajaran dan untuk koleksi hiasan di rumah, belum sepenuhnya bisnis. Namun ada beberapa barang buatannya yang ternyata menarik minat beberapa temannya, seperti tempat tisu dari anyaman rotan, yang langsung mereka beli. Bahkan ada beberapa rekan yang minta dibuatkan lagi beberapa kerajinan souvenir karyanya.

Atas saran dari seorang teman ia mengajukan diri sebagai mitra binaan salah satu Bank BUMN. Awal usaha ini berdiri ia hanya mengajukan kredit dari bank sebesar 5 juta rupiah saja dan langsung disetujui karena melihat potensi usaha kerajinan souvenir ini cukup bagus.

Meski pekerjaan pokoknya sebagai pengajar, ia selalu menyempatkan diri sepulang bekerja untuk membuat berbagai desain kerajinan souvenir, bahkan membuat sendiri souvenir. Namun jika order sedang banyak Elisabeth meminta bantuan  para tetangga dalam pengerjaannya.

Untuk bahan baku Elisabeth memperolehnya dari Surabaya, yang dibuat beberapa jenis suvenir , seperti bahan handuk yang dibuat miniatur kue (towel cake), model binatang, gantungan kunci dan ponsel, serta hiasan kulkas dan miniatur rombong sayur dari clay, gelas sablon, lilin aromaterapi, tempat tisu, hingga toples atau tempat permen dari tempurung kelapa.

Dengan harga Rp 5.000-25.000 per piece untuk suvenir kecil dan Rp 30.000 hingga di atas Rp 1 juta per piece untuk suvenir besar, rata-rata ia mampu menerima minimal 4 pesanan suvenir per bulan, dengan volume maksimal 500 piece per pesanan.

Usaha kerajinan souvenir ini memang masih tergolong usaha rumah tangga, namun cukup menguntungkan. Untuk pemasaran kerajinan souvenir ini Elisabeth mengandalkan  pemasaran mulut ke mulut, media online dan event pameran. Jika mau kreatif ternyata ide bisnis bisa datang dari mana saja.

Sumber:

http://www.surya.co.id/2011/09/25/sering-lihat-pameran-kepincut-bikin-usaha-kerajinan

- See more at: http://galeriukm.com/bisnis-kerajinan/menekuni-usaha-souvenir-karena-sering-lihat-pameran#sthash.yfitvqfN.dpuf

Advertising Surabaya

Author: 

Related Posts

Leave a Reply