Tips Produktifitas: Dukung Karyawan Anda untuk Mengambil Liburan

 Tips

Gagasan bahwa “Semakin lama dan semakin keras Anda bekerja, maka Anda akan semakin sukses” tampaknya sudah berakar pada budaya bisnis Indonesia. Masalahnya adalah: hal ini tidak sepenuhnya benar.

Sebuah studi yang dilakukan inc.com terhadap salah satu startup di Amerika Serikat [disini] menyebutkan bahwa workaholic, atau mereka yang bekerja di atas 70 jam kerja seminggu, beresiko lebih tinggi untuk mengidap penyakit jantung, perilaku penyalahgunaan alkohol, dan kematian dini.

“Karyawan menjadi cenderung lebih produktif ketika mereka memiliki waktu untuk mengisi ulang kreativitas mereka.” Kata Jan Bruce, founder sebuah startup yang mengembangkan solusi pemantau stres kerja: MeQuilibrium. Lebih jauhnya lagi, Bruce memberikan sejumlah tips bagi anda, pemilik bisnis, mengenai bagaimana caranya membuat karyawan anda merasa bekerja lebih ringan namun dengan hasil yang lebih besar. Di antaranya:

Memperkuat tujuan

Menurut data MeQuilibrium, sebagian besar stres karyawan datang ketika mereka merasa seolah pekerjaan mereka tidak penting. Maka kewajiban Anda sebagai pemimpin adalah membantu mengubah perspektif mereka.

“Anda perlu membantu karyawan Anda untuk memahami bahwa apa yang mereka lakukan mampu membuat perbedaan di perusahaan,” kata Bruce. “Anda tidak hanya sekedar meningkatkan kepuasan, tetapi juga produktivitas mereka.”

Mengapresiasi mereka yang mengambil liburan

Seringkali anda akan menghadapi persoalan seputar krisis SDM ketika menjalankan startup. Apalagi ketika bisnis mulai bergulir. Maka seringkali pula, karyawan anda akan merasa bersalah untuk mengambil liburan. Tugas anda sebagai pemimpin adalah mengatakan bahwa mereka tidak perlu merasa bersalah ketika mengambil jatah liburan yang pantasnya mereka dapatkan. Setiap orang perlu mengisi ulang pikiran, tubuh, dan jiwa mereka.

Mendukung waktu relaksasi

Startup cenderung mengabaikan waktu relaksasi bagi karyawan mereka seperti lunch break hingga larangan untuk cek email dan telepon kerja pada waktu liburan. Padahal menurut Bruce, “Karyawan yang memiliki kesadaran terhadap keseimbangan waktu kerja akan mampu menjadi lebih terhubung terhadap pekerjaan mereka, memiliki rasa tanggungjawab yang lebih tinggi, dan jadi lebih produktif dibanding workaholic.”

sumber: Will Yakowicz, inc.com

Sumber : www.mediabisnisonline.com

Advertising Surabaya

Author: 

Related Posts

Leave a Reply